Saturday, November 28, 2009

Yang luar biasa di akhir2 ini dan bulan lalu

Posted by gta3andreas On 12:50 AM 3 comments

Kakek 81 Tahun Jadi Peserta Ujian SD


JAKARTA- Kerutan dahinya sudah membekas. Kacamatanya seakan-akan tak bisa mengurangi penglihatan mata yang sudah uzur. Bibir pun sesekali meniup kotoran penghapus ujian.

“Beliau peserta ujian tertua. Usianya 81 tahun,” kata Ketua Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Harapan Islam Galur, Emi Muharni, di kantornya, Jumat, (20/11).

Kakek yang tinggal di Jl Kali Baru Timur V No 46, Bungur, Kemayoran, itu bernama Tarlan. Ia dengan tekun mengikuti ujian matematika Kejar Paket A atau setara Sekolah Dasar (SD). Pria yang telah punya 29 cucu ini gigih dalam mengikuti pelajaran yang dilaksanakan tiap malam setiap Senin, Rabu dan Jumat. “Pendidikan terakhir kelas V Sekolah Rakyat (SR),” tambahnya.

baca selengkapnya tinggal klik judulnya!


Tarlan bekerja sebagai cleaning service di Masjid Istiqlal. Sementara pelajaran yang paling disukainya adalah Matematika. Untuk Bahasa Inggris pun nilainya juga di atas rata-rata, meski spelling-nya terbata-bata. “Kelasnya kelas malam sekitar 19.00 WIB. Pelajarannya yaitu Matematika, IPA, IPS, PKN, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,” katanya.

Mencari Ilmu
Menjadi siswa di usia 81 tahun bukan perkara mudah. Dibutuhkan berbagai motivasi supaya tak lelah mengikuti pelajaran. “Kadang juga capek, sudah tua kok sekolah, buat apa?” kata Tarlan, usai mengikuti ujian kejar paket A atau setara SD.

Meski demikian, kakek ini mengaku tidak pernah merasa putus asa. Menurut dia, proses pencarian ilmu itu dari lahir hingga liang lahat. Terlebih, dia mempunyai motivasi yang besar untuk menyelesaikan studinya.

“Kadang ditanya, sudah tua buat apa sekolah. Saya jawab, kalau mencari ilmu hingga liang lahat,” tambah kakek yang mengenakan kemeja lengan putih panjang ini.

Tarlan telah 3 kali menikah. Perkawinan pertama pada 1949 dengan Kasminah, ia dikaruniani 4 orang anak. Selang beberapa tahun kemudian lelaki asal Cirebon tersebut bercerai, lalu mengawini seorang wanita bernama Wiwi hingga mempunyai 8 anak.

Setelah itu, ia juga menikah lagi dengan Ani, dan mendapatkan anak 1 anak. “Sekarang saya punya buyut 5, cucu 29, anak 13,” ceritanya dengan suara lantang.



sumber: www.suaramerdeka.com



Energi Alternatif dari Rambut

Fisikawan masyhur, Stephen Hawking, pernah menjelaskan cara membuat energi statis dari rambut. Hal inilah yang telah menginspirasi seorang pemuda berusia 18 tahun, Milan Karki, mengembangkan energi alternatif dari rambut.




ENERGI alternatif terus menjadi isu global yang terus digali, menyusul persediaan bahan bakar fosil yang makin menipis. Penggunaan bahan bakar nonfosil juga dimaksudkan untuk mengurangi dampak pemanasan global (global warming) yang mencemaskan umat manusia di seluruh dunia.




Penelitian mendalam mengenai energi alternatif pada umumnya bermuara ke pemanfaatan energi air / hidrogen, energi surya (panel solar), dan bioenergi dari tumbuhan. Tetapi yang dilakukan oleh Milan Karki, anak muda dari Nepal, sungguh mencengangkan.




Dengan ketekunannya, dan terus memelajari teori-teori yang pernah diajarkan Hawking, Milan kini berada dalam arus kesuksesan menciptakan energi alternatif, ’’hanya’’ dari rambut manusia.




Ya, dari rambut manusia itulah, Milan Karki mampu menemukan tipa panel solar baru. Saat ini, Milan terus menyempurnakan hasil temuannya, kemudian memikirkan upaya pematenannya.




’’Ini merupakan solusi mudah atas krisis energi yang dialami masyarakat dunia saat ini. Yang terpenting sekarang adalah memikirkan masa depan umat manusia, sambil menjaga bumi ini agar tetap hijau, dengan menggunakan bahan-bahan alami,’’ tegas pemuda cerdas tersebut.
Panel Solar Menurut Milan, rambut manusia sangat gampang digunakan sebagai konduktor dalam sebuah panel solar, serta bisa memperbarui energi yang telah dikeluarkannya.




Selain setiap manusia memilikinya, setiap hari rambut manusia juga akan mengalami kerontokan, meski hanya beberapa helai.
Rambut manusia, kata Milan, dapat dimanfaatkan sebagai pengganti silikon, yang komponennya hampir sama digunakan pada panel solar.




Artinya, panel solar pun bisa dibuat dengan biaya rendah bagi mereka yang memiliki sambungan listrik.
Melanin, yaitu pigmen yang memberikan warna pada rambut, ternyata sangat sensitif terhadap cahaya. Ia juga bisa berfungsi sebagai konduktor.




Selain itu, rambut manusia juga jauh ’lebih murah’’ daripada silikon, sehingga biaya pembuatannya dapat ditekan. Solar panel ini juga bisa untuk mengisi baterai ponsel maupun penyedia listrik sepanjang malam.




Solar panel hasil kreasinya mampu menghasilkan energi sebesar 9 Volt (18 Watt). Biaya pembuatannya hanya sekitar Rp 380.000, jika diproduksi secara perorangan.




’’Biaya pembuatan menjadi murah apabila diproduksi secara massal, misalnya untuk satu kampung atau satu desa. Harganya bisa mencapai hanya separo, atau bahkan seperempatnya,’’ jelasnya.
Desa Terpencil Percobaan Milan Karki memang terkait dengan kondisi kelistrikan di negaranya, Nepal, termasuk juga di kampungnya, sebuah desa terpencil.




Banyak wilayah pedesaan di Nepal yang belum terjangkau sambungan listrik. Meski di beberapa tempat sudah diterangi listrik, pemakaiannya juga dibatasi rata-rata 16 jam per hari.




Dari pengalaman itulah, Milan dibantu empat temannya melakukan eksperimen dengan membuat panel solar.




Semula, hasil percobaan Milan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di rumahnya. Maklum, ia tinggal bersama keluarganya di sebuah desa terpencil yang juga belum terjamah aliran listrik.




’’Kemudian saya berpikir, bukankah rumah-rumah di desa kami juga belum memperoleh listrik? Sekarang saya pun berubah pikiran, bahwa energi alternatif dari rambut ini harus bisa diaplikasikan oleh penduduk di seluruh dunia,’’ kata Milan, yang kini bersekolah di Kathmandu.




Milan mulai tertarik dengan elektronika sejak masih kanak-kanak. Saat itu dia masih bermukim di Khotang, sebuah wilayah pedalaman di Nepal, yang sama sekali belum tersentuh sambungan listrik.




Tidak heran ketika ia berhasil menemukan panel solar, hanya dari rambut manusia, masyarakat Khotang pun berduyun-duyun meminta bantuannya. ’’Padahal, semula mereka tak percaya bahwa rambut manusia bisa menghasilkan listrik,’’ kenangnya. (Dela SY-32)




sumber: www.suaramerdeka.com














3 comments:

  1. Buset...keren infonya..
    satunya sosial satunya teknologi...
    huahaha...
    sob,boleh ngasi saran??
    artikelnya kasi read more donk sob..
    biar gk berat akses blognya...
    hehe..maklum netku pake smart yg murah meriah..
    hehe...
    thank you :D

    ReplyDelete

komentarmu, aku tunggu! no spam!

Site search

    Partner

    Disclaimer

    Maindakon Maindakon merupakan blogg yang berisi tentang berbagai informasi dimana kami tidak menjamin bahwa informasi tersebut benar 100%. Semua posting ditulis sesuai dengan refrensi yang kami dapatkan. Semua tips yang ditulis sebatas saran atau sugesti untuk memberikan solusi atau sekedar berbagi info yang dimana kami tidak menjamin benar 100%.